“Kepemimpinan adalah Keteladanan” Refleksi Iman : Kitab Ulangan 1:9-18

Oleh Pdt Lucky Rumopa

Dalam peradaban dunia, hukum dan ideologi telah dikenal manusia. Sebelum Allah memberi Hukum,ketetapan dan peraturan di gunung Sinai kepada umat Israel, sudah ada hukum dan ideologi lain berkembang pada masa itu. Di Mesopotamia kota Eshnunna ada enampuluh hukum yang berkembang sekitar tahun 1800 SM. Ada hukum Hamurabbi Babylonia (1792-1750 SM) dipahat setinggi 2,7 m dan tersimpan di Museum Louvre,Paris. Kemudian ada 200 hukum Het sekitar tahun 1600 SM, dan 128 hukum Middle Assyrian Laws pada masa pemerintahan Tiglat-Pileser I (1115-1077 SM). Sementara Hukum Musa ada dalam status yang sama dengan hukum-hukum kuno. Keluaran dan Imamatmemiliki 138 hukum dan Kitab Ulanganmemiliki 101 hukum.

Pandangan dan ideologi berkembang mengikuti saman bersama hukum hukum kehidupan sebuah bangsa, hingga modernisasi berkembang. Maka lahirlah apa yang disebut Kapitalisme, sosialisme,Komunisme,Fasisme,anarkisme, Marxisme, konservatisme. Bahkan Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia. Menurut Gouldnst: ideologi adalah sebuah sistim atau kepercayaan yang berhubungan dengan tindakan sosial atau praktik kekuasaan dan politik. Dan kepemimpinan dunia memainkan peran masing masing untuk mewujudkan “keadilan” menurut mereka, dan faktor seorang pemimpin memainkan peranan penting, dia harus di ukur dengan kriteria-kriteria dan hukum yang ada. Oleh sebab itu presentasi kepribadian dan pengenalan serta kemampuan menjadi ajang pertarungan dalam memperebutkan kekuasaan. Itu sebabnya di negara negara maju bila seorang pemimpin tidak mewujudkan program atau melakukan kesalahan pribadi, tanpa diminta mundur dia mengundurkan diri sendiri. Karena kepemimpinan adalah simbol sebuah Ideologi atau hukum yang dijabarkan untuk menjadi “keteladanan”.

Kepemimpinan yang bersifat “Teladan” kembali diingatkan Musa melalui Kitab Ulangan (Deuterenomium) Psl 1:9-18.
Sebelum Musa menyampaikan pidato-pidato terakhir tentang soal moral, kultis dan sosial-politik. Dia mengumpulkan umat Israel (generasi baru) yang sedang berada didataran Moab dan dalam persiapan memasuki tanah Kanaan, tanah perjanjian yang dijanjikan Allah bagi umat-Nya ketika mengeluarkan mereka dari tanah perbudakan Mesir (Lih Kel. Psl 3). Musa harus persiapkan dengan matang bangsa yang besar ini sebelum dipimpin Yosuamenggantikan dia. Musa menyadari keterbatasannya yang tidak dipersiapkan Allah untuk masuk (band Bilangan 27:12-22) Dan sebelum naik ke gunung Nebo tempat dimana Musa harus mati, maka dihadapan kurang lebih 300.000 umat Israel yang sedang bersiap untuk masuk ke kota Yerikho. Musa memperlengkapi umat tentang sistim kepemimpinan “pengangkatan hakim hakim” seperti yang pernah Musa lakukan kepada umat Israel sebelum berada di gunung sinai, ketika di nasehatkan mertuanya Yitro (lih Kel.18:13-27).
Itulah maksud kitab Ulangan, yakni mengulang kembali peristiwa-peristiwa dimana Allah turut bekerja dalam perjalanan umat israel kepada generasi-genarasi baru agar mereka tidak melupakan Allah yang telah menyerahkan untuk diduduki yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka Abrahan Ishak dan Yakub (lih ay 8) tentang “Tanah perjanjian Allah.”

Menduduki dan mendiami negri yang baru, dan yang berlimpah susuh dan madu (Kel 3:17) membutuhkan sistim kepemimpinan yang berkwalitas, beritegritas, pemimpin yang baik dan bertanggung jawab serta berkepribadian “teladan” itu sebabnya Musa mengingatkan ketika dia hanya seorang diri tidak mampu (ay 9) dan kepemimpinan harus memiliki struktur organisasi yang kuat dengan memilih orang orang yang bijaksana, berakal budi dan berpengalaman yang baik (ay 13-15). Memimpin bukan dengan kekuasaan sendiri tetapi dengan kekuasaan yang dipercayakan Allah, dia dapat memimpin dengan jumlah kepala pasukan yang ditetapkan (ay 15) dengan demikian dia dapat mengambil keputusan dengan adil (ay 16), memutuskan hukum tanpa pandang bulu, netral (ay 17) serta berkoordinasi dengan baik bila ada temuan temuan yang sulit. Strategi dan kriteria Musa dalam kepemimpinan tidak menonjolkan kekuatan struktur walau itu penting dalam sistim organisasi tetapi “kepemimpinan yang teladan” yang ditonjolkan adalah sikap kepemimpinan yang berkarakter dalam takut akan Tuhan. Inilah pembekalan umat sebelum masuk ketanah Kanaan.
Kepemimpinan yang berintegritas dimulai dari organisasi kecil yakni kehidupan keluarga, dalam menata, membimbing dengan baik serta mempersiapkan generasi-generasi baru menjadi hidup dalam kepunyaan Allah (ay 17c). Bagi Musa sistim yang diberikan Yitro mertuanya sekalipun kuat tapi bila memilih pemimpin yang salah pasti sistimnya ikut rusak. Oleh sebab itu memilih pemimpin bukan didorong rasa suka atau tidak, atau melihat keadaan kaya atau populer melainkan yang takut akan Tuhan, dan yang mau berbuat baik. Bukan rekayasa atau pencitraan.

Kepemimpinan yang di gambarkan Musa memiliki tendens “mesianis” dalam ayat 17 “…pengadilan adalah kepunyaan Allah” Roma 14:11-12 berkata : “Karena ada tertulis; demi Aku Hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut dihadapanKu dan semua orang akan memuliakan Allah. Demikianlah setiap orang diantara kita akan memberi pertanggung jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Sang Hakim menghakimi dengan penuh hikmat, pengetahuan, kebenaran dan keadilan sesuai dengan kuasa yang dimiliki-Nya (Yoh 5:22-30) Siapakah Hakim itu ? dialah Tuhan Yesus Kristus dimana semua orang percaya kepada-Nya sedang menantikan kedatangan Nya kedua kali (Kisah 1:11, 1 Kor 1:7-8), Musa mengingatkan dalam pemilihan hakim-hakim (pemimpin) bahwa semuanya adalah milik Tuhan.
Musa menekankan agar kepemimpinan harus benar benar dilakukan dengan benar, bertanggung jawab atas kepercayaan Tuhan mengingat jabatan yang Tuhan berikan adalah kepunyaan-Nya, bukan miliki kita yang harus kita pertahankan, karena semua yang ada dikolong langit ini hanya bersifat sementara. Ada yang pergi ada yang datang, ada yang berhenti ada yang melanjutkan, ada yang dipercayakan ada yang tidak. Oleh sebab itu Yesus menerapkan semangat kepemimpinan “truth-telling” yang mengatakan benar itu benar, dan salah itu salah, Yesus bukan sekedar berkata kata melainkan bertindak bahkan memberi kesaksian dalam diri-Nya. Yesus menunjukan keteladanan kehidupan ketimbang memberikan perintah dengan memaksa, merekayasa apalagi mengklaim diri yang baik. Tapi keteladanan berkepribadian.

Dalam menghadapi situasi berkepanjangan dalam “social-distancing” untuk meredam penyebaran virus covid-19 kita membutuhkan saling percaya dan saling menerima, “bersama bertanggung jawab atas kesusahan, beban dan perkara” serta membutuhkan kepemimpinan yang beri-integritas dan penuh kerendahan dalam menjawab tuntutan-tuntutan dalam masyarakat lingkungan dan kehidupan keluarga kita. Sistim hukum dan ideologi yang lahir dari keyakinan dan bersifat universal akan hidup secara permanen dan tidak akan goyah sebab dia memiliki spirit hidup serta perjuangan dalam menjawab tantangan yang dipercayakannya. Kita membangun Demokrasi dalam perspektif iman Kristen.

Leave a Reply

Your email address will not be published.