Membangun Solidaritas Hadapi Kelumpuhan Dunia

Refleksi iman : Markus 2:1-12
Menarik nonton Seri Tv HBO “Game of Thrones” (perebutan kekeuasaan) yang disutradarai Benioff, D,B.Weiss, D.Nutter. Menampilkan kisah yang sarat dengan persaingan dan ambisi yang diadaptasi dari seri novel (fiksi) karya George R.R.Martin “A-song of Fire and Ice” Menceritakan tentang 7 kerajaan dan beberapa klan (keturunan) besar yang saling berebut takhta.

Dieropa perebutan takhta sudah terjadi sejak abad 5 di era peradaban “Anglo-Saxon” yang, memiliki tujuh kerajaan (Eas-Anglia, Mercia, Northhumbia, Wessex, Essex, Kent dan Sussex). Tetapi sesungguhnya perebutan kekuasaan sudah tergambar awal dari hidup manusia antara “kain-habel”(Lih Kej psl 4) yang kemudian secara global “imperium” kuno wilayah mesopotamia Gilgamesh (2700 SM) hingga periode Samses III (118- SM). Serta bangkitnya Kerajaan Asyur (1115) Hadirnya Kerajaan Israel (1050 Sm-930 Sm) dan munculnya kekuasaan kekuasaan Babylonia (605 Sm), Persia (522 Sm), Yunani (336 sm) dan Romawi (27 Sm- tahun 14).
Dunia akhirnya tidak sepi dengan pertentangan antara suku bangsa, bahkan hadir dalam struktur-struktur sosial-modern saat ini.

Dalam Injil Markus 2:1-12 justru Yesus memperhatikan “solidaritas” itu sangat penting dibangun mulai dari komunitas yang sederhana yaitu kerabat, teman atau saudara dan kelompok. Mujizat orang lumpuh disembuhkan bukan menjadi tujuan utama Yesus. Melainkan sikap solidaritas empat orang yang mengusung orang lumpuh tersebut (lih ay 3-4) ; memikul, membawa keatas, membuat lobang dan menurunkan orang lumpuh itu.

Diera-pandemi ini kita sulit temukan solidaritas kemanusiaan seperti itu, justru kita membangun stigmatisasi terhadap korban covid-19 seperti era-Taurat Israel dimana setiap penyakit dianggap “kutukan” hal ini sangat berbahaya bila kita disebut sebagai pengikut Kristus.!

Pada ayat awal 1-2 kita lihat orang banyak berkerumun berdesakan masuk didalam rumah milik Petrus (band psl 1:29) demi melihat Yesus, karena tersiar kabar (ay 1) Yesus hendak datang di Kapernaum. Tempat ini berapa kali Yesus datang dan melakukan mujizat-mujizat : anak Yairus di bangkitkan dan Perempuan 12 tahun kanker rahim (Mrk 5:21-43) seorang panglima Romawi yang lumpuh (Mat 8:5-13) Anak pegawai Herodes Antipas yang sakit (Yoh 4:46-54) dan berbagai tanda tanda ajaib. Kota yang dibangun era-Romawi tahun 150 Sm, terletak indah ditepi danau genesaret (galilea) dan tidak jauh dari sungai Yordan.

Namun kota yang memiliki daftar kunjungan Yesus yang banyak ini pernah di kecam oleh Yesus, jauh lebih berat yang ditanggung oleh Sodom dan Gomora ( Mat 11:23-24). Perkataan Yesus tersebut terbukti pada tahun 750 Kota Kapernaum hancur lebur. Kota dimana tempat kediaman rasul Petrus,Andreas, Yakobus dan Yohanes tinggal kenangan.

Oleh karena penduduk kota tidak bertobat walau sudah melihat mujizat dan mendengar pengajaran-pengajaran Yesus.

Ayat 2c; “sementara Ia memberitakan Firman.” Kata sementara ini membuktikan bahwa didalam rumah itu orang banyak yang memenuhi, pintu masukpun sesak karena mereka sedang mendengar Firman Tuhan. Tetapi hal itu bukan menjadi prioritas orang banyak, karena motivasi hanya melihat mujizat Yesus.

Markus mengalihkan perhatian kepada seorang lumpuh yang sedang turun dari atap tepat dihadapan Yesus. Upaya solidaritas 4 orang tersebut dinilai Yesus sebagai kekuatan iman (ay 5) sebuah iman “solidaritas” yakni ada saling berkorban, saling membantu, saling mendukung dan ini inti dari sebuah kehidupan bahwa bukan mujizat yang bersifat fisik dibutuhkan tetapi “pertobatan” dan oleh sebab itu Yesus mengatakan kepada yang lumpuh “hai anak-Ku dosamu sudah diampuni” Yesus tidak katakan “sembuhlah..!” terlebih dahulu tetapi Dia yang memiliki kuasa sebagai “anak manusia” berkuasa mengampuni dosa! (istilah Anak manusia :Daniel 7:13) uangkapan itu seperti ingin mengingatkan akan tugas “mesianis”
Yesus mengetahui hati ahli-ahli Taurat bahwa yang berkuasa mengampuni hanya Allah. Ayat 8-9 Yesus menjawab dalam bentuk pilihan, mana yang lebih mudah mengatakan dosa orang lumpuh ini sudah diampuni atau bangunlah angkatlah tilanmu dan berjalanlah? Oleh sebab pengampunan dosa tidak dapat di lihat atau di rabah karena esensi dalam hidup beriman adalah mendapatkan pengharapan, pengampunan dan pemulihan jiwa. Dan itu jauh lebih berharga dari sebuah harapan secara material atau fisik.

Janji mesias melalui kitab para nabi sebenarnya sedang dinyatakan Yesus. “Mesyiakh” (Ibr Yang diurapi) yang dalam bahasa Yunani : Christos atau Kristus adalah Yesus (band Mik 5:1 dan Matius 2:3-6). Gelar yang dipakai secara khusus bagi Kristus bagi diri-Nya sendiri dan Yesus menyaksikan hal itu.

Kita sedang berada dalam kondisi yang serbab sulit,dunia seperti mengalami “kelumpuhan” akibat pandemi covid-19. Lumpuh dengan sistim sosial berubah, lumpuh dalam berjuang mencari kerja, lumpuh hadapi proses pendidikan anak anak, lumpuh dalam pemiskinan dll. Tetapi yang jauh lebih berbahaya adalah mengalami kelumpuhan moral, kelumpuhan rohani, kelumpuhan secara phsikologis dimana sulit mengenal sesama kita, kecurigaan, kecemburuan dan sulit beradaptasi.

Kita butuh orang-orang yang memiliki iman solidaritas dan “kesetiakawanan” yang tidak dibatasi dengan umbul-umbul partai, atau sebuah hegimoni kesukuan dan ras serta agama.

Dunia sedang lumpuh dan kita butuh “pertobatan” bukan “Mujizat” Injil Markus mengingatkan kita dibalik sikap “iman” solidaritas ada perintah untuk menghadapi berbagai kelumpuhan. Ayat 11 “bangunlah..!! angkatlah tempat tidurmu..!! dan pulanglah kerumahmu..!

Artinya : Bangunlah dari kesadaran atas sikap egois, dan suka memecah belah persatuan, angkatlah tempat tidur kita yang “mengina-bobo” kita lupa diri dan terjebak pada ilusi-ilusi yang tidak berguna, dan pulanglah kerumah kita masing-masing sambil menjaga sosial distancing serta menjaga keluarga kita agar tidak terlantar dan sesat.

Karena disanalah Tuhan memerintahkan berkat dan sukacita. (aya 12) dunia takjub akan kesaksian kita dan nama Allah dimuliakan, bukan nama partai, bukan nama kandidat dalam menghadapi pesta demokrasi dalam bersaing bagaikan “Game of Thrones” Sebab kekuasaan hanya alat untuk membangun dan menata dunia menjadi baik oleh orang-orang baik yang memiliki solidaritas dan “kesetiakawanan” berdasarkan iman kepada Yesus.

Batusaiki Akhri Juli 2020
Pdt Lucky Rumopa

Leave a Reply

Your email address will not be published.