“Pemimpin Belajar kepada Nehemia”

Refleksi Iman : Nehemia 2:11-20

Mengenal kitab NEHEMIA sepertinya tidak berbicara hal-hal rohani melainkan sebuah untaian sejarah yang justru lebih menekankan riwayat Nehemia dan sejarah membangun tembok Yerusalem yang dihancurkan oleh Nebudkadnezar saat mengepung Kota Yerusalem bulan Desember Tahun 589 SM. Dan pada Tahun kesebelas pemerintahan Zedekia (586 SM) Kota itu hancur dan Temboknya. Dan ketika kerajaan Babylonia jatuh Pada tahun 539 SM ditaklukan oleh Kerajaan baru yakni Kekaisaran Akhemeniyah maka pada saat itupun Yerusalem dikuasai oleh kerajaan Persia. Setelah Persia menguasai melalui raja Koresh, dia mengijinkan orang-orang jajahannya bisa kembali ke tanah air mereka, maka pada tahun 535 SM orang-orang Israel dalam pembuangan kembali ke tanah air mereka. Dan setelah itu hadir raja ke enam Persia Artahsasta putra Xerxes I yang memerintah 41 tahun (465 SM-424). Pada masa inilah Nehemia hadir.
Dan ditahun ke 20 (444 SM) pemerintahan Artahsasta dia memerintahkan Nehemia untuk membangun Tembok dan Kota Yerusalem. Nehemia adalah Pegawai kepercayaan istana sebagai juru minum. Suatu saat ketika Nehemia dikunjungi saudara-saudaranya dari Yerusalem yakni Hanani (psl 1:2) dia mendapatkan laporan tentang keadaan Kota dan tembok Yerusalem yang hancur dan sisa sisa orang-orang Israel yang berada dalam kesulitan berat. Ternyata kembalinya orang-orang buangan termasuk orang Israel tidak mudah membangun hidup mereka yang baru, sebab sebagian besar mereka yang kembali adalah generasi-generasi yang tidak lahir di tanah air mereka dan mereka mendapatkan banyak kesulitan. Ketika mendapatkan laporan Nehemia berdoa dan berpuasa (psl 1:4) dan memohon pengampunan dosa. Tuhan mendengar Nehemia ketika dengan berani melaporkan pergumulannya kepada Raja, dan akhirnya dia mendapatkan kepercayaan raja dengan surat resmi (ay 7-8) untuk bertemu dengan bupati-bupati yang ditempatkan raja di wilayah jajahannya. Namun sambutan para Bupati sinis dan merasa dilangkahi antara lain Sanbalat dan Tobia (ay 10) mereka memainkan peran untuk menggagalkan rencana Nehemia. Sanbalat adalah bupati Samaria sementara Tobia memerintah bagian Timur Yudea (band psl 4:1-3, 6:12). Kedudukan itu juga dicatat dalam Papyrus Elephantine yaitu naskah-naskah tua yang ditemukan dekat sungai Nil dengan bahasa Aram yang dipakai bangsa Persia waktu itu juga.
Nehemia adalah anak Akhaya (psl 1:1) dia berasal dari suku Yehuda, dan menulis Kitab Nehemia sekitar tahun 431-430 SM. Pada Pasal 2:11-20 Nehemia menyaksikan langsung kondisi tembok dan Kota Yerusalem, dengan sepucuk surat “khasiat”sang raja Persia. Nehemia memiliki otoritas untuk membangunnya namun tidak segampang yang dia pikirkan namun semangat dan tanggung jawab serta tekad untuk membangun tembok walau mendapatkan ancaman dan tantangan secara politik dan sosial-ekonomi, Nehemia dengan kekuatan doa dan puasa dia membangun dengan setia dan memulai mengadakan penelitian “observasi” kadaan tembok Yerusalem. Tembok-tembok rupanya ada di bagian timur-laut dan tenggara pebukitan. Ayat 13 : menunjukan bagaimana perbaikan tembok itu dimulai dari dua pintu gerbang Lebak (lembah atau jurang) tembok bagian selatan dan 460 meter dari tempat itu ada Pintu Gerbang “sampah” ketika observasi pada malam hari Nehemia melewati jalur tersebut. Antara dua pintu masuk itu ada mata air Ular naga (dalam septaguinta disebut Mata air pohon ara) yang terletak di lembah “Kidron”(en-regel) atau kata lain “wadi”(ay 15,band Yosia 15:7.18:16). Nehemia melewati lembah tersebut itu sebabnya dalam ayat 14 disebut “kolam raja” (kolam bethesda: lih Yoh 5) karena mata air tersebut membentuk kolam-kolam raja. Dengan demikian Nehemia menyadari melalui pengamatannya bahwa kekacauan yang rumit atas laporan Hanani (psl 1:2) terletak pada lereng-lereng bukit yang curam bila tidak diperbaiki maka “bukit moria” atau sion yakni Yerusalem akan longsor besar dan mengancam penduduknya. (cat: mata air ular naga hanya sebuah legenda cerita rakyat, bahwa ada burung besar berada didalam dan keajaiban)
Pengamatan yang cermat Nehemia bukan kerja tambal-sulam mengatasi persoalan, tetapi mencari titik dan sumber kehancuran, sumber persoalan. Kita tidak terjebak pada retorika-retorika palsu untuk menyenangkan hati rakyat. Dengan anggaran-anggaran yang dimanipulatif untuk memperlihatkan kita dapat mengatasi infrastruktur, air bersih, banjir kemacetan, kemiskinan dan persoalan-persoalan sosial lainnya. Tapi bagaimana Nehemia mengatasi persoalan dengan mencari titik sumber persoalan. Nehemia bukan sekedar kampanye tapi dia datang dengan legitimasi raja untuk memanggil orang-orang pilihan untuk dapat bekerja-sama. Nehemia harus mengahadapi lawan-lawannya yang mempropagandakan kekuasaan, sanbalat menggunakan pelapor-pelapor antara lain Gesyem(Ay 19) dia berkuasa di Qedar (dedan) dibarat Laut Arabia yang dibawah kekuasaan Persia. Dan menggunakan politik intimidasi (band Ezr 4:23) agar nehemia mengurungkan niat membangun Tembok Yerusalem. Nehemia dengan kekuatan Tuhan tetap menegakan rencananya dengan membakar emosi umat Israel (ay 20) “Allah semesta Langit, Dialah yang membuat kami berhasil..!” pengharapan iman inilah yang memotivasi pembangunan tembok Yerusalem.

Nehemia memanggil dan mengajak belajar kepadanya dimana kita dapat bersama sama membangun tatanan kehidupan berbangsa dan bertanah air yang baik, sebab itu adalah panggilan iman. Kepercayaan sebuah jabatan bukan dipakai untuk gagah-gagahan demi merebut kekuasaan dengan mempropagandakan retorika palsu agar rakyat senang. Kenapa Nehemia harus memulai dari dua pintu gerbang Lebak dan sampah ? sebab daerah sekitarnya ada kolam raja yang juga nanti adalah kolam Bethesda yang dalam injil Yohanes pasal 5 menjelaskan bagaimana setiap orang sakit bisa sembuh bila malaikat Tuhan datang meriakan air tersebut. Tetapi Yesus datang memperkenalkan dialah Tuhan atas dunia dan manusia yang dapat menyembuhkan yang sakit. Termasuk sakit iman karena itulah yang utama, untuk apa kita sembuh secara fisik tetapi iman mengalami kematian. Oleh sebab itu membangun tatanan hidup tidak lepas dengan kekuatan iman orang-orang percaya.
Nehemia memberi pelajaran tentang tekad dan motivasi membangun kota dimulai dengan pengamatan “survei” tempat-tempat mana yang harus diselesaikan, kerusakan kerusakan mana yang harus diatasi, bukan survei siapa yang populer dan terkuat dalam pilkada, sebab sehebat dan secerdas kita dengan embel embel elektabilitas dan ketenaran karena “uang” dan jabatan tapi kalau tidak bersinergi mengatasi persoalan kehidupan maka itu semua sia sia. Membangun kota adalah tanggung jawab kita bersama, kota atau kosmos bisa itu adalah keluarga kita, kelompok kita masyarakat kita. Nehemia memulai pekerjaan dengan meminta kekuatan Tuhan sebab dia tidak mau lagi umat Israel dipimpin oleh bangsa-bangsa penyembah berhala. Nebudkadnezar raja babylonia pernah diijinkan Tuhan memimpin Israel bahkan Tuhan sempat menyebut dia “hamba-Nya” (lih Yer 25:9) bahkan diijinkan berkuasa atas semua ciptaan-Nya (Yer 27:6) dan rasul Paulus mengatakan dalam Kitab Roma 10:19 bahwa Tuhan sengaja membangkitkan cemburu dengan memanggil bukan umat sebagai umatnya. Karena Nehemia tahu umat Israel dibuang karena dosa-dosanya sehingga Tuhan mengijinkan orang lain memerintah atas umat-Nya.(lih Psl 1).
Semangat Nehemia adalah semangat hamba-hamba Tuhan untuk membangun dasar iman yang kuat (I Kor 3:12) agar mengatasi pembangunan hidup masyarakat dapat dilakukan dengan takut akan Tuhan, adalah permulaan hikmat. Menghadapi masa pandemi-covid 19 bukan berarti kita lepas dari tanggung jawab membangun penataan jemaat dan masyarakat dalam NKRI pada issu-issu politik.
(beirut Libanon mengalami goncangan ledakan, serangkaian ledakan terjadi juga antara Cina-korut, pesawat India terbelah dua, seorg ibu di ukraina menggali lubang demi membebaskan anaknya di penjara, Pemerintah umumkan penyesuaian bersama 4 menteri ttg panduan pembelajaran dimasa pandemi,pertikaian elite politik memanas ketika demokrat membandingkan SBY dan Jokowi)
Batusaiki Awal minggu Agustus
Pdt Lucky Rumopa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.